Tim PKM-KC UNESA Ciptakan “KidySense” untuk Deteksi Dini Gagal Ginjal Anak Berbasis Biosensor dan Tiny Machine Learning
Surabaya, 8 November 2025 — Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (UNESA) kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Salah satu tim Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) berhasil lolos ke ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) 2025 yang akan diselenggarakan di Universitas Hasanuddin, Makassar. Tim ini mengusung inovasi berjudul “KidySense: Deteksi Dini Gagal Ginjal Berbasis Biosensor dan Tiny Machine Learning sebagai Upaya Pencegahan Gagal Ginjal Kronis pada Anak.”
Karya ini merupakan hasil kolaborasi mahasiswa lintas fakultas di UNESA, di bawah bimbingan Rifqi Firmansyah, S.T., M.T., dosen dari Fakultas Teknik. Tim KidySense diketuai oleh Amelia Rahmi Wibowoft dari S1 Teknik Elektro, dengan anggota tim yang terdiri dari Nabila Hanunnisa (FTS – S1 Teknik Elektro), Anung Jaylani Firmansyah (FT – S1 Teknik Elektro), Vanesya Putri Octavia (FMIPA – S1 Biologi), dan Nur Florenty Rehulina Ginting (FK – S1 Keperawatan).
Inovasi Teknologi untuk Deteksi Dini Gagal Ginjal Anak
Latar belakang ide ini berawal dari meningkatnya kasus gagal ginjal akut dan kronis pada anak-anak di Indonesia, yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi perhatian serius dunia medis. Banyak kasus gagal ginjal terdeteksi pada stadium lanjut karena gejala awal seringkali tidak tampak jelas. Melihat kondisi ini, tim KidySense berinisiatif menghadirkan alat deteksi dini yang cepat, akurat, dan mudah digunakan, terutama untuk masyarakat umum dan tenaga medis di fasilitas kesehatan dasar.
Melalui konsep biosensor elektrokimia, alat ini mampu mengukur kadar kreatinin dan urea dalam urin anak, yang menjadi indikator penting fungsi ginjal. Data hasil pengukuran kemudian diproses menggunakan Tiny Machine Learning (TinyML), yaitu algoritma pembelajaran mesin berskala kecil yang ditanam langsung di perangkat mikroprosesor berdaya rendah. Sistem ini mampu mengenali pola dari data biologis dan memberikan analisis kemungkinan adanya gangguan fungsi ginjal sejak dini.
Amelia Rahmi Wibowoft, selaku ketua tim, menjelaskan bahwa KidySense dikembangkan dengan fokus pada kemudahan penggunaan dan efisiensi biaya. “Kami ingin menghadirkan solusi yang terjangkau namun tetap presisi. KidySense bisa digunakan di rumah sakit, puskesmas, bahkan di rumah oleh orang tua, karena alat ini portable dan hemat energi,” ujarnya.
Kolaborasi Multidisiplin dan Pendekatan Holistik
Keunikan proyek ini terletak pada kolaborasi lintas bidang ilmu. Dari sisi teknik elektro, Amelia, Nabila, dan Anung bertanggung jawab pada desain perangkat keras, sistem sensor, serta integrasi algoritma TinyML untuk analisis data secara real-time. Di sisi lain, Vanesya Putri Octavia dari FMIPA berperan dalam kalibrasi sensor berdasarkan data biologis dan pengujian sampel, sementara Nur Florenty Rehulina Ginting dari Fakultas Keperawatan memastikan aspek etika medis serta keamanan penggunaan alat bagi anak-anak.
Dosen pembimbing Rifqi Firmansyah, S.T., M.T. menilai proyek ini sebagai wujud nyata sinergi antara ilmu teknik dan kesehatan. “KidySense adalah contoh bagaimana teknologi bisa berpihak pada kemanusiaan. Mahasiswa kami tidak hanya berinovasi dalam aspek teknis, tetapi juga memahami konteks sosial dan medis dari permasalahan yang ingin mereka pecahkan,” jelasnya. Ia menambahkan, pengembangan alat ini diharapkan dapat terus berlanjut menuju tahap uji klinis dan komersialisasi dengan dukungan lembaga riset dan industri kesehatan.
Langkah Menuju PIMNAS 2025
Setelah melalui proses seleksi ketat dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemendikbudristek, tim KidySense akhirnya dinyatakan lolos ke PIMNAS 2025, ajang bergengsi yang mempertemukan mahasiswa berprestasi dari seluruh Indonesia. Prestasi ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi UNESA karena menunjukkan keberhasilan kampus dalam membina budaya riset dan inovasi di kalangan mahasiswa.
Dalam persiapannya menuju PIMNAS, tim KidySense memperkuat aspek dokumentasi, simulasi perangkat, dan penyusunan presentasi ilmiah. Mereka juga melakukan uji coba terhadap berbagai variasi data biologis untuk meningkatkan akurasi model TinyML yang digunakan dalam sistem. Dukungan penuh datang dari berbagai pihak di lingkungan kampus, termasuk Fakultas Teknik, FMIPA, dan Fakultas Keperawatan yang berperan aktif dalam memfasilitasi proses pengembangan prototipe.
Kontribusi bagi Masyarakat dan Harapan ke Depan
KidySense tidak hanya berfokus pada aspek teknologi, tetapi juga memiliki nilai sosial yang tinggi. Melalui kemampuan deteksi dini, alat ini diharapkan dapat membantu menurunkan angka kematian akibat gagal ginjal anak serta menekan biaya pengobatan jangka panjang. Selain itu, tim berencana mengembangkan program edukasi kesehatan ginjal anak melalui kolaborasi dengan sekolah-sekolah dasar dan posyandu di wilayah Surabaya. “Kami ingin KidySense tidak berhenti di PIMNAS saja. Harapan kami, alat ini dapat diproduksi massal dan digunakan secara luas untuk membantu masyarakat,” ujar Nabila Hanunnisa. Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik UNESA menyampaikan apresiasi terhadap kerja keras dan semangat inovatif tim KidySense. “Mahasiswa UNESA telah menunjukkan bahwa mereka mampu menghadirkan solusi nyata terhadap persoalan kesehatan nasional melalui pendekatan teknologi cerdas. Kami akan terus mendukung pengembangan riset semacam ini agar berdampak luas bagi masyarakat,” ungkapnya.
Partisipasi Tim PKM-KC UNESA di PIMNAS 2025 Universitas Hasanuddin menjadi simbol dedikasi generasi muda dalam menggabungkan kecerdasan teknologi dengan kepedulian sosial. Dengan semangat “Inovasi dari Kampus untuk Kemanusiaan”, KidySense siap menjadi terobosan baru dalam dunia medis Indonesia, khususnya untuk mendeteksi dini penyakit ginjal pada anak. UNESA terus berkomitmen melahirkan mahasiswa kreatif, adaptif, dan berdaya saing tinggi melalui program Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) sebagai bagian dari upaya mendukung Indonesia Emas 2045.