Catcalling: Fenomena Pelecehan Jalanan yang Perlu Dihentikan

Catcalling adalah salah
satu bentuk pelecehan verbal yang sering terjadi di ruang publik. Fenomena yang
mungkin pernah dialami oleh sebagian besar mahasiswa, terutama perempuan.
Meskipun sering kali dianggap sepele atau bahkan dipandang sebagai
"pujian", catcalling sebenarnya adalah tindakan yang merendahkan
martabat dan bisa menimbulkan dampak psikologis yang serius.
Bagi mahasiswa, masa-masa kuliah
adalah periode untuk belajar, berkembang, dan berinteraksi di lingkungan yang
seharusnya mendukung dan aman. Sayangnya, catcalling sering kali mengganggu
rasa aman tersebut, mempengaruhi cara seseorang berperilaku dan merasakan ruang
publik. Misalnya, seorang mahasiswi yang sedang berjalan menuju kampus mungkin
tiba-tiba disiuli atau diberi komentar tidak senonoh oleh orang asing atau sesame
mahasiswa lainnya di jalan. Hal ini tidak hanya membuatnya merasa tidak nyaman,
tetapi juga bisa menyebabkan kecemasan berlebihan, mempengaruhi kepercayaan
dirinya, dan bahkan mengubah perilaku sehari-harinya.
Apa Itu
Catcalling?
Mengutip halodoc, Catcalling salah satunya merujuk pada tindakan pelecehan verbal yang
terjadi di ruang publik. Tindakan ini bisa berupa:
- ü Siulan:Misalnya, sekelompok pria bersiul ketika melihat seorang wanita melintas.
- ü Komentar Seksual:Pelaku memberikan komentar bernada seksual seperti "Kamu seksi banget!" atau "Pakaiannya bikin tergoda."
- ü Gestur Tidak Pantas:Pelaku membuat gerakan tangan atau ekspresi wajah yang bernada seksual.
- ü Menghalangi Jalan atau Mengikuti: Setelah memberikan komentar, pelaku mencoba menghalangi jalan korban atau bahkan mengikutinya.
Fenomena catcalling sering kali
dianggap sebagai "pujian" atau sekadar "guyonan" oleh
pelakunya, namun kenyataannya, tindakan ini mencerminkan ketidakhormatan
terhadap ruang pribadi seseorang dan merupakan bentuk objektifikasi yang merendahkan.
Korban catcalling tidak hanya dihadapkan pada gangguan fisik tetapi juga beban
mental yang ditimbulkan dari rasa terancam dan tidak aman saat berada di ruang
publik.
Dampak dari catcalling dapat
sangat merugikan. Selain menyebabkan ketidaknyamanan, tindakan ini dapat
memperkuat budaya patriarki yang menempatkan perempuan sebagai objek seksual.
Catcalling juga dapat menghambat kebebasan bergerak bagi korban, yang mungkin
merasa terpaksa mengubah rute perjalanan atau memilih pakaian tertentu untuk
menghindari pelecehan.
Untuk menghentikan catcalling,
diperlukan kerjasama dari berbagai pihak. Edukasi masyarakat sangat penting
untuk meningkatkan kesadaran bahwa catcalling adalah bentuk pelecehan, bukan
pujian. Penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku juga diperlukan untuk
memberikan efek jera. Selain itu, kampanye anti-pelecehan harus digalakkan
untuk mendorong sikap saling menghormati dan menolak segala bentuk pelecehan.
Dukungan kepada korban juga penting, baik melalui jalur hukum maupun layanan
konseling, agar mereka mendapatkan perlindungan dan pemulihan yang diperlukan.
Mahasiswa perlu menyadari bahwa
catcalling bukanlah hal yang sepele. Ini adalah bentuk pelecehan yang
mencerminkan masalah yang lebih besar dalam masyarakat kita, yaitu kurangnya
penghargaan terhadap hak dan martabat individu, terutama perempuan. Mahasiswa
memiliki peran penting dalam mengubah budaya ini. Sebagai generasi yang
berpendidikan dan kritis, mereka bisa menjadi agen perubahan dengan menolak dan
mengutuk tindakan catcalling, baik sebagai korban, saksi, maupun pelaku
potensial. Selain itu, kampanye kesadaran dan pendidikan tentang dampak negatif
catcalling harus terus digalakkan di lingkungan kampus untuk menciptakan
atmosfer yang lebih aman dan menghormati hak setiap individu.
Mahasiswa juga dapat berperan
aktif dalam melaporkan kejadian catcalling dan mendukung korban. Dengan
melaporkan pelecehan yang mereka saksikan atau alami, mereka dapat membantu
memastikan bahwa pelaku dihukum dan bahwa kampus tetap menjadi lingkungan yang
aman. Solidaritas di antara mahasiswa juga penting; dengan saling mendukung,
mereka dapat membantu korban merasa bahwa mereka tidak sendirian dan bahwa
tindakan pelecehan tidak akan dibiarkan begitu saja. Dengan demikian, melalui
upaya kolektif ini, mahasiswa dapat berkontribusi pada terciptanya ruang publik
yang lebih aman dan bermartabat, di mana setiap orang dapat berjalan dengan
rasa percaya diri dan tanpa takut dilecehkan.