Tim PKM-KC UNESA Melaju ke PIMNAS 2025 di Universitas Hasanuddin dengan Inovasi EyeSphere Berbasis Deep Learning dan IoT
Surabaya, 8 November 2025 — Kabar membanggakan datang dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Salah satu tim unggulan dari UNESA berhasil lolos dan akan berkompetisi dalam ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) 2025 yang diselenggarakan di Universitas Hasanuddin, Makassar. Tim tersebut merupakan bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) dengan inovasi bertajuk “EyeSphere: Inovasi Multi-Diagnostik Dini Gangguan Oftalmologi melalui Klasifikasi Citra Retina Berbasis Deep Learning Terintegrasi IoT untuk Pencegahan Disfungsi Visual.”
Inovasi EyeSphere ini menjadi salah satu karya yang merepresentasikan semangat kolaborasi lintas disiplin ilmu di UNESA, menggabungkan keahlian dari bidang Sains Data, Teknik Informatika, Kedokteran, dan Teknik Elektro. Tim ini diketuai oleh Muhammad Raihan Fasya dari Program Studi Sains Data, FMIPA UNESA, dengan empat anggota berbakat: Moh. Novil Ma’arij dan Esa Maidatussohiba dari S1 Teknik Informatika, Fakultas Teknik, Gandhi Innas Salsabil dari S1 Kedokteran, serta Muhammad Syamsul Arifin dari S1 Teknik Elektro, Fakultas Teknik. Tim ini dibimbing langsung oleh Yetty Septiani Mustar, S.K.M., M.P.H., dosen pendamping yang berpengalaman dalam bidang kesehatan masyarakat dan teknologi kesehatan digital.
Inovasi EyeSphere: Sinergi Kecerdasan Buatan dan IoT untuk Kesehatan Mata
EyeSphere dirancang sebagai solusi komprehensif untuk diagnosis dini gangguan oftalmologi, seperti retinopati diabetik, glaukoma, dan degenerasi makula, yang merupakan penyebab utama kebutaan di dunia. Sistem ini memanfaatkan algoritma deep learning untuk melakukan klasifikasi citra retina secara otomatis. Data citra retina yang diperoleh dari kamera fundus akan diproses oleh model kecerdasan buatan untuk mengidentifikasi potensi abnormalitas pada struktur retina.
Keunggulan utama dari EyeSphere terletak pada integrasi teknologi IoT (Internet of Things) yang memungkinkan sistem bekerja secara real-time dan terhubung dengan perangkat mobile atau cloud. Dengan demikian, dokter atau tenaga medis dapat mengakses hasil diagnosis secara cepat dan akurat, bahkan di daerah dengan keterbatasan fasilitas medis. Inovasi ini diharapkan mampu memberikan pencegahan dini terhadap disfungsi visual dan membantu menurunkan angka kebutaan yang disebabkan oleh deteksi terlambat.
Menurut Muhammad Raihan Fasya, ketua tim EyeSphere, pengembangan proyek ini berawal dari keprihatinan terhadap minimnya deteksi dini penyakit mata di Indonesia. “Kami melihat banyak kasus kebutaan yang sebenarnya bisa dicegah jika diagnosis dilakukan lebih awal. Dari situ kami ingin menciptakan sistem berbasis kecerdasan buatan yang bisa membantu masyarakat mendapatkan pemeriksaan retina dengan mudah dan efisien,” jelas Raihan.
Kolaborasi Lintas Disiplin: Cerminan Semangat Inovatif UNESA
Inovasi EyeSphere juga menjadi bukti kuat bahwa kolaborasi antar bidang ilmu merupakan kunci keberhasilan dalam pengembangan teknologi modern. Dalam tim ini, mahasiswa teknik berperan dalam perancangan sistem, pemrograman algoritma, dan integrasi IoT; mahasiswa sains data berfokus pada pengolahan data dan pelatihan model deep learning; sementara mahasiswa kedokteran memberikan perspektif medis yang sangat penting dalam validasi data dan interpretasi hasil diagnosis.
Muhammad Syamsul Arifin, mahasiswa S1 Teknik Elektro UNESA yang berperan dalam pengembangan modul IoT EyeSphere, menyatakan bahwa peran teknologi sensor dan konektivitas menjadi bagian penting dari sistem ini. “Dari sisi Teknik Elektro, kami berfokus pada bagaimana perangkat ini bisa bekerja secara efisien di lapangan. Sistem sensor, daya, dan transmisi data kami rancang agar dapat digunakan bahkan di klinik kecil atau daerah terpencil,” ujarnya.
Dosen pembimbing, Yetty Septiani Mustar, turut menyampaikan apresiasinya atas kerja keras dan sinergi tim ini. Ia menilai bahwa karya mahasiswa UNESA ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut menjadi produk inovatif yang berdampak luas. “EyeSphere bukan hanya proyek akademik, tetapi juga langkah nyata menuju inovasi teknologi kesehatan yang humanis dan aplikatif. Kolaborasi lintas disiplin ini adalah cerminan dari arah pengembangan riset dan pembelajaran di UNESA yang semakin adaptif terhadap kebutuhan masyarakat,” tuturnya.
Kebanggaan dan Harapan ke Depan
Keberhasilan tim EyeSphere melaju ke ajang PIMNAS 2025 menjadi bukti bahwa UNESA terus menunjukkan eksistensinya sebagai kampus yang unggul dalam bidang penelitian dan inovasi mahasiswa. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk dosen pembimbing, fakultas, dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), turut menjadi faktor penting dalam keberhasilan ini.
Melalui partisipasi di PIMNAS, tim ini berharap dapat memperluas jejaring penelitian, mendapatkan masukan dari para pakar, serta membuka peluang untuk komersialisasi produk di masa depan. Inovasi EyeSphere diharapkan tidak hanya menjadi kebanggaan UNESA, tetapi juga kontribusi nyata dalam peningkatan layanan kesehatan berbasis teknologi di Indonesia. Dengan semangat “Growing with Innovation”, mahasiswa UNESA membuktikan bahwa kreativitas dan riset dapat berjalan beriringan untuk menghadirkan solusi yang berdampak positif bagi masyarakat luas.