Sistem Deteksi Kebocoran Gas Di Dapur Dengan Platform Blynk
Inovasi Keamanan Rumah Tangga: Sistem Deteksi Kebocoran Gas Berbasis IoT
Dalam era modern, keamanan rumah tangga menjadi salah satu prioritas utama, khususnya dalam mencegah risiko kebakaran yang sering kali disebabkan oleh kebocoran gas. Sebagai respons terhadap tantangan ini, mahasiswa Universitas Negeri Surabaya telah mengembangkan sebuah sistem deteksi kebocoran gas berbasis teknologi Internet of Things (IoT). Proyek inovatif ini dirancang untuk meningkatkan keamanan dapur, area yang sering kali memiliki risiko kebakaran tinggi akibat kelalaian atau kerusakan perangkat gas.
Mengapa Penting?
Kebakaran yang terjadi akibat kebocoran gas dapat menimbulkan kerugian besar, baik dari segi materi maupun korban jiwa. Berdasarkan data, peristiwa kebakaran sering kali terjadi di daerah padat penduduk, dengan penyebab utama berupa kelalaian manusia (human error) dan kegagalan sistem keamanan. Teknologi IoT kini memberikan solusi cerdas untuk meminimalkan risiko tersebut dengan memanfaatkan perangkat yang dapat memantau dan memberikan peringatan dini secara otomatis.
Teknologi di Balik Sistem
Sistem deteksi kebocoran gas ini menggunakan sensor gas MQ135 yang dikombinasikan dengan mikrokontroler ESP32 sebagai unit pemroses utama. Sensor ini mampu mendeteksi keberadaan gas berbahaya di udara, seperti gas karbon monoksida atau bahan bakar yang mudah terbakar.
Berikut adalah komponen utama yang digunakan:
Sensor MQ135: Mendeteksi konsentrasi gas di udara.
Mikrokontroler ESP32: Mengolah data dari sensor dan menghubungkannya ke platform IoT.
Relay: Memutus aliran listrik secara otomatis saat kebocoran terdeteksi untuk mencegah risiko kebakaran.
LED RGB dan Buzzer: Memberikan peringatan visual dan suara untuk memperingatkan pengguna.
Platform Blynk: Mengirimkan notifikasi real-time ke aplikasi pengguna.
Cara Kerja Sistem
Sensor MQ135 terus memantau konsentrasi gas di udara.
Data dari sensor dikirim ke ESP32 untuk dianalisis.
Jika gas melebihi ambang batas aman:
Relay akan memutus aliran listrik.
LED RGB akan berubah warna menjadi merah, dan buzzer akan berbunyi.
Notifikasi dikirim ke pengguna melalui aplikasi Blynk.
Jika kondisi aman, LED RGB akan tetap hijau, menandakan bahwa tidak ada ancaman.
Gambar 1. Tampilan Hasil Blynk
Hasil Uji Coba
Dalam pengujian, sistem ini terbukti dapat mendeteksi kebocoran gas dengan cepat dan memberikan respons yang sesuai. Notifikasi real-time yang dikirimkan melalui platform Blynk memungkinkan pengguna untuk segera mengambil tindakan, bahkan saat berada jauh dari rumah. Selain itu, penggunaan relay memastikan aliran listrik langsung terputus, sehingga risiko kebakaran dapat diminimalkan.
Gambar 2. Prototipe
Manfaat dan Rencana Pengembangan
Proyek ini memberikan solusi praktis dan efektif untuk meningkatkan keamanan dapur rumah tangga. Ke depan, sistem ini dapat dikembangkan lebih lanjut dengan menambahkan fitur integrasi dengan perangkat smart home lainnya, seperti kamera pengawas atau sistem pemadam kebakaran otomatis. Selain itu, peningkatan pada jaringan komunikasi untuk mengurangi latensi notifikasi juga menjadi fokus pengembangan berikutnya.
Kesimpulan
Dengan memanfaatkan teknologi IoT, mahasiswa Universitas Negeri Surabaya berhasil menciptakan sistem deteksi kebocoran gas yang dapat meningkatkan keamanan rumah tangga secara signifikan. Proyek ini tidak hanya relevan dengan kebutuhan masyarakat, tetapi juga menjadi bukti nyata bagaimana inovasi teknologi dapat memberikan dampak positif dalam kehidupan sehari-hari.
Mari kita dukung inovasi karya anak bangsa untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan nyaman bagi semua! Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut tentang proyek ini, kunjungi situs resmi Universitas Negeri Surabaya atau hubungi tim pengembang melalui fakultas Teknik Elektro.
Nama: Muhammad Najib Taufiqurrahman
NIM: 21050874027
Prodi: S1 Teknik Elektro Universitas Negeri Surabaya