Smart Walking Stick Berbasis IoT, Inovasi Dosen dan Mahasiswa Teknik Elektro UNESA Tingkatkan Kemandirian Penyandang Tunanetra
Surabaya, 25 November 2025 - Komitmen Universitas Negeri Surabaya (UNESA)
dalam menghadirkan inovasi yang berdampak bagi masyarakat kembali diwujudkan
melalui pengembangan Smart Walking Stick berbasis Internet of Things (IoT).
Inovasi ini dikembangkan oleh Rosi Fadila Mey Sabiliana bersama Dr. Ir. Lusia
Rakhmawati, S.T., M.T. dari Program Studi S1 Teknik Elektro Fakultas Teknik
UNESA sebagai solusi teknologi yang dirancang untuk meningkatkan keselamatan
dan kemandirian penyandang tunanetra saat beraktivitas.
Smart Walking Stick hadir sebagai pengembangan dari tongkat konvensional
dengan mengintegrasikan teknologi Internet of Things melalui mikrokontroler
ESP8266, sensor ultrasonik HC-SR04, modul GPS Neo-6M, dan SIM800L. Perangkat
ini mampu mendeteksi keberadaan rintangan di depan pengguna melalui sensor
ultrasonik dan memberikan peringatan suara secara otomatis. Tidak hanya itu,
sistem juga dapat mengirimkan koordinat lokasi pengguna kepada anggota keluarga
melalui pesan singkat (SMS), sehingga keluarga dapat memantau posisi pengguna
ketika berada di luar rumah. Inovasi tersebut diharapkan mampu memberikan rasa
aman, baik bagi penyandang tunanetra maupun keluarga yang mendampingi.
Pengembangan inovasi ini dilatarbelakangi oleh masih terbatasnya fitur
pada berbagai tongkat pintar yang telah dikembangkan sebelumnya. Sebagian besar
penelitian terdahulu hanya berfokus pada kemampuan mendeteksi hambatan,
sementara aspek keselamatan melalui pelacakan lokasi pengguna belum banyak
diimplementasikan. Padahal, kemampuan mengetahui posisi pengguna menjadi
kebutuhan penting ketika penyandang tunanetra melakukan mobilitas di luar
lingkungan yang telah dikenalnya. Berangkat dari kebutuhan tersebut, tim
peneliti menghadirkan solusi yang mengombinasikan sistem navigasi, deteksi
rintangan, dan komunikasi berbasis IoT dalam satu perangkat yang ringkas dan
mudah digunakan.
Serangkaian pengujian yang dilakukan menunjukkan bahwa perangkat memiliki
performa yang sangat baik. Smart Walking Stick mampu mendeteksi rintangan
dengan tingkat keberhasilan 92,2 persen, memiliki akurasi sensor mencapai 93,9
persen, serta rata-rata kesalahan hanya 6,1 persen. Sistem juga memiliki waktu
respons 2,12 detik dengan latensi buzzer 134,1 milidetik, sehingga mampu
memberikan peringatan secara cepat ketika terdapat hambatan di jalur yang
dilalui pengguna. Dari sisi efisiensi energi, perangkat mampu beroperasi hingga
103 jam menggunakan power bank berkapasitas 20.000 mAh dengan efisiensi daya
mencapai 96,6 persen. Sementara itu, sistem komunikasi data menunjukkan tingkat
keandalan 97,3 persen, sehingga informasi lokasi pengguna dapat dikirimkan secara
cepat dan stabil kepada keluarga.
Dokumentasi percobaan beserta titik lokasi dari walking stick
Pengembangan Smart Walking Stick berbasis Internet of Things (IoT) juga
sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Inovasi
ini mendukung SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui penyediaan teknologi
yang meningkatkan keselamatan, rasa aman, dan kualitas hidup penyandang
tunanetra saat beraktivitas. Di sisi lain, perangkat ini turut mendukung SDG 4
(Quality Education) karena dimanfaatkan sebagai media pembelajaran sekaligus
teknologi asistif di lingkungan SLB Kemala Bhayangkari 1 Trenggalek, sehingga
memberikan kesempatan yang lebih setara bagi peserta didik penyandang
disabilitas untuk belajar dan beraktivitas secara mandiri. Melalui pengembangan
teknologi yang inklusif, inovasi ini juga berkontribusi terhadap SDG 10
(Reduced Inequalities) dengan mendorong akses yang lebih luas terhadap
teknologi bagi kelompok rentan, khususnya penyandang disabilitas. Selain itu,
kolaborasi antara Program Studi S1 Teknik Elektro FT UNESA dan SLB Kemala
Bhayangkari 1 dalam implementasi dan pengujian inovasi merupakan wujud nyata
SDG 17 (Partnerships for the Goals), yang menekankan pentingnya kemitraan
lintas institusi dalam menghasilkan solusi yang memberikan manfaat langsung
bagi masyarakat. Melalui kerja sama tersebut, proses pengambilan data, uji coba
lapangan, hingga penyempurnaan perangkat dilakukan secara kolaboratif dengan
melibatkan guru serta peserta didik penyandang tunanetra sebagai pengguna
langsung. Pendekatan ini memungkinkan inovasi dikembangkan berdasarkan
pengalaman nyata di lapangan, sehingga teknologi yang dihasilkan tidak hanya
unggul secara teknis tetapi juga relevan dengan kebutuhan pengguna.
Selama proses implementasi, tim peneliti melakukan pengujian langsung
kepada siswa penyandang tunanetra di SLB Kemala Bhayangkari 1 Trenggalek.
Dokumentasi pengujian menunjukkan perangkat mampu mendeteksi rintangan,
memberikan peringatan kepada pengguna, serta mengirimkan titik koordinat lokasi
secara otomatis kepada keluarga melalui SMS. Hasil implementasi tersebut
menjadi bukti bahwa Smart Walking Stick tidak hanya berhasil dikembangkan di
laboratorium, tetapi juga telah dimanfaatkan pada lingkungan nyata sebagai
teknologi pendukung mobilitas penyandang tunanetra.
Menurut Dr. Ir. Lusia Rakhmawati, S.T., M.T., pengembangan Smart Walking
Stick merupakan wujud komitmen UNESA dalam menghasilkan inovasi yang memberikan
manfaat langsung kepada masyarakat. "Teknologi seharusnya mampu
menyelesaikan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Melalui Smart Walking
Stick ini, kami ingin menghadirkan solusi yang dapat meningkatkan keselamatan,
kemandirian, sekaligus kualitas hidup penyandang tunanetra," ujarnya.
Kolaborasi antara dosen, mahasiswa, dan mitra implementasi tersebut
menjadi bukti bahwa hasil penelitian di perguruan tinggi dapat dihilirisasikan
menjadi inovasi yang berdampak. Smart Walking Stick berbasis IoT tidak hanya
menjadi luaran tugas akhir mahasiswa, tetapi juga mencerminkan komitmen Program
Studi S1 Teknik Elektro Fakultas Teknik UNESA dalam mengembangkan riset
aplikatif yang menjawab kebutuhan masyarakat, mendukung teknologi inklusif,
serta memperkuat peran UNESA sebagai perguruan tinggi yang berorientasi pada
inovasi dan kebermanfaatan. (Te-2025)