Dari Kegelisahan terhadap Rendahnya Deteksi Dini HIV, Mahasiswa Unesa Hadirkan HI-SCAN sebagai Inovasi Skrining Non-Invasif Menuju Indonesia Bebas HIV 2030
Dari Kegelisahan terhadap Rendahnya Deteksi Dini HIV, Mahasiswa Unesa Hadirkan HI-SCAN sebagai Inovasi Skrining Non-Invasif Menuju Indonesia Bebas HIV 2030
Upaya pengendalian Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Meskipun perkembangan layanan kesehatan terus mengalami kemajuan, angka penemuan kasus baru setiap tahun menunjukkan bahwa deteksi dini masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian serius. Berdasarkan Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2025, diperkirakan terdapat sekitar 564.000 Orang dengan HIV (ODHIV) di Indonesia. Namun, baru sekitar 63 persen yang mengetahui status HIV mereka, sehingga masih terdapat sekitar 37 persen yang belum terdiagnosis. (Indonesia, 2025) Yang lebih memprihatinkan, berdasarkan data dari Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kota Klaten, jumlah temuan kasus hiv dari 2007 hingga mei 2026 tercatat sebanyak 1.732 kasus. Sementara itu, berdasarkan kelompok umur 25 - 49 tahun merupakan penemuan kasus terbanyak, mencapai 1.177 orang. (Solopos, 2025) Kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya kesenjangan antara estimasi kasus dan cakupan diagnosis, sehingga peluang penanganan sejak fase awal belum dapat dimanfaatkan secara optimal.
Padahal, deteksi dini merupakan fondasi utama dalam pengendalian HIV. Semakin cepat seseorang mengetahui status kesehatannya, semakin besar peluang untuk segera memperoleh terapi, mempertahankan kualitas hidup, sekaligus meminimalkan risiko penularan kepada orang lain. Selain itu, Indonesia juga mendukung target global eliminasi HIV tahun 2030, sehingga peningkatan akses terhadap layanan skrining menjadi salah satu strategi penting dalam mencapai target tersebut.
Rasa takut terhadap prosedur pengambilan darah, kekhawatiran akan stigma sosial, keterbatasan akses terhadap fasilitas pemeriksaan, serta rendahnya literasi mengenai pentingnya skrining menjadi beberapa faktor yang masih dijumpai di lapangan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengendalian HIV tidak hanya memerlukan peningkatan layanan kesehatan, tetapi juga membutuhkan inovasi teknologi yang mampu menghadirkan proses pemeriksaan secara lebih nyaman, mudah dijangkau, dan diterima oleh masyarakat.
Berangkat dari permasalahan tersebut, Tim Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mengembangkan sebuah inovasi bertajuk HI-SCAN, yaitu perangkat deteksi dini HIV berbasis biosensor yang dirancang untuk menghadirkan metode skrining non-invasif sebagai alternatif pemeriksaan konvensional.
Inovasi tersebut dikembangkan oleh Fauzi Achmad, Reino Matabiyu Salaka, Firdausi Nuzula Aurellia Siswanti, Daniel Arnold Hasiholan Simanjuntak, dan Muhammad Zikri Kurniawan di bawah bimbingan Rifqi Firmansyah, S.T., M.T., Ph.D. Pengembangan HI-SCAN merupakan bentuk kontribusi mahasiswa dalam menghadirkan solusi berbasis teknologi terhadap salah satu persoalan kesehatan yang masih menjadi tantangan nasional.
Berbeda dengan metode pemeriksaan HIV yang umumnya memanfaatkan sampel darah, HI-SCAN dirancang menggunakan sampel saliva (air liur) sebagai media deteksi. Pendekatan non-invasif tersebut diharapkan mampu memberikan pengalaman pemeriksaan yang lebih nyaman sehingga dapat mengurangi rasa takut masyarakat terhadap proses skrining HIV serta meningkatkan partisipasi masyarakat untuk melakukan deteksi sejak dini.
Dari sisi teknologi, HI-SCAN mengintegrasikan biosensor berbasis Screen Printed Electrode (SPE) dengan teknologi Machine Learning untuk mendeteksi keberadaan antigen p24, salah satu biomarker yang muncul pada fase awal infeksi HIV. Melalui integrasi kedua teknologi tersebut, proses analisis diharapkan mampu menghasilkan pemeriksaan yang lebih cepat, praktis, serta memiliki potensi mendukung peningkatan efektivitas skrining HIV di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.
Lebih jauh, pengembangan HI-SCAN tidak hanya berorientasi pada aspek teknologi, tetapi juga berupaya menjawab persoalan psikologis yang selama ini menjadi hambatan dalam pemeriksaan HIV. Kehadiran metode deteksi yang lebih sederhana dan minim rasa tidak nyaman diharapkan dapat meningkatkan keberanian masyarakat untuk melakukan pemeriksaan secara sukarela, sehingga kasus HIV dapat ditemukan lebih awal dan segera memperoleh penanganan yang tepat.
Inovasi ini sekaligus menunjukkan bahwa kolaborasi antara bidang kesehatan, rekayasa teknologi, dan kecerdasan buatan mampu menghasilkan solusi yang relevan terhadap kebutuhan masyarakat. Melalui penelitian dan pengembangan yang dilakukan, mahasiswa Universitas Negeri Surabaya berupaya menghadirkan inovasi yang tidak hanya memiliki nilai akademik, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kualitas layanan kesehatan di Indonesia.
Pada akhirnya, pencapaian target Indonesia Bebas HIV Tahun 2030 memerlukan sinergi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, hingga masyarakat. Dalam konteks tersebut, HI-SCAN diharapkan dapat menjadi salah satu inovasi yang mendukung peningkatan deteksi dini HIV melalui pendekatan yang lebih mudah, nyaman, dan inklusif. Sebab, teknologi yang baik bukan sekadar menghadirkan kecanggihan, melainkan mampu menjawab kebutuhan masyarakat serta mendorong semakin banyak individu untuk berani mengetahui kondisi kesehatannya sejak dini. .